Dalam rangka mendekatkan gagasan dengan implementasi riil di lapangan, maka dalam tahap ini akan dicoba dihadirkan ilustrasi berdasarkan kegiatan riil yang telah berjalan dan akan dijalankan ke depan.
Saat ini, ada 3 (tiga) lingkaran belajar yang sedang dan akan berjalan yaitu :
1. Lingkar Belajar Gerakan Rakyat
Inisiasi awal dari lingkar belajar ini diawali dengan terbitnya Buku ”Memahami Gerakan-gerakan Rakyat Dunia Ketiga” yang ditulis oleh Noer Fauzi dan ”Gerakan-gerakan Rakyat Dunia Ketiga” dimana Noer Fauzi menjadi penyuntingnya. Buku ini terbit di awal bulan Agustus 2005, tepat 1 hari menjelang kepergian Noer Fauzi --salah seorang anggota KARSA-- selama kurang lebih 4 (empat) tahun untuk studi di UC Berkeley. Sebelum ybs meninggalkan Indonesia, setelah melalui proses diskusi yang panjang, KARSA kemudian berusaha memfasilitasi adanya proses transfer pengetahuan dari ybs dalam kaitannya dengan topik buku yang ditulisnya kepada aktifis, baik aktifis organisasi non-pemerintah maupun dari organisasi tani lokal, yang menjadi ”pemula dan pemulai” (meminjam istilah Noer fauzi) dari gerakan rakyat di masing-masing wilayah. Masuk melalui pintu penyelenggaraan ”kursus” yang menghadirkan Noer Fauzi sebagai narasumber/mentor/fasilitator, diharapkan ini dapat menjadi awal dari proses belajar yang berkelanjutan demi menopang keberhasilan gerakan rakyat.
2. Lingkar Belajar Sekolah Politik
Lingkar belajar ini diawali dari diskusi yang melibatkan beberapa organisasi yaitu WALHI, KARSA, PERGERAKAN, PR, ICW dan YAPPIKA dalam rangka merefleksikan apa yang telah dilakukan oleh ornop dalam rangka memasuki arena pertarungan politik formal dalam rangka memperbesar otoritas rakyat. Belakangan ini, memang langkah-langkah untuk mendorong terjadinya artikulasi politik dalam gerakan sosial semakin serius dipikirkan dan dirintis. Karena bagaimanapun ruang-ruang politik sesempit apapun telah semakin terbuka. Dari proses yang terjadi selama ini, maka disepakati dibentuk sekolah politik untuk: menghasilkan kader-kader politik rakyat, membangun jaringan kader dan kerja politik antar organ dan antar wilayah, serta memproduksi pengetahuan untuk memperkuat agenda dan kerja-kerja politik gerakan pro rakyat. Lingkar belajar ini disepakati akan dikelola bersama-sama oleh beberapa organisasi, termasuk KARSA.
3. Lingkar Belajar Perempuan dan Sumber Agraria (Tanah dan Kekayaan Alam) Lingkar Belajar ini baru dalam tahap inisiasi. Direncanakan ke depan, akan dibangun suatu ruang untuk proses belajar untuk perempuan dalam kaitannya dengan isu sumber agraria di Indonesia. Hal ini dikarenakan adanya pertimbangan bahwa perempuan dan sumber agraria punya keterkaitan erat, dan ruang yang tersedia untuk proses belajar dalam isu ini sangatlah minim ditemui.
4. Lingkar Belajar Pemetaan Partisipatif
Sama seperti Lingkar Belajar Perempuan, lingkar belajar untuk pemetaan partisipatif akan diinisiasi ke depan. Gerakan pemetaan partisipatif ini diketahui memang sudah lama ada di Indonesia dan semakin lama semakin berkembang menjangkau seluruh wilayah di Indonesia. Namun, dirasakan perlu ada suatu proses belajar yang mencoba merefleksikan gerakan pemetaan partisipatif ini, apakah memang benar instrumen ini menjadi instrumen gerakan sosial untuk mendapatkan pengakuan bagi ruang kelola rakyat, atau justru menjadi instrumen negara untuk melemahkan rakyat.
Dari keempat lingkar belajar di atas, lingkar belajar pertama akan dijadikan ilustrasi untuk menggambarkan bagaimana gagasan yang dibahas sebelumnya bisa diimplementasikan riil di lapangan, seperti berikut ini :
A. SEKOLAH LAPANGAN
Sekolah ini ditujukan untuk menjadi ruang belajar bagi peserta proses belajar. Dalam sekolah ini jelas ada kegiatan dan proses belajar-mengajar, ada peserta belajar, ada ’guru’, ada fasilitator yang memfasilitasi proses belajar, ada ’kurikulum’ belajar yang jelas dan output serta pendokumentasian proses belajar.
Dalam hal ini, yang menjadi peserta belajar, sesuai dengan kesepakatan dalam diskusi yang diselenggarakan oleh fasilitator yang mengelola lingkar belajar ini adalah aktifis –baik aktifis organisasi non pemerintah maupun organisasi tani lokal-- yang menjadi ’pemula dan pemulai’ gerakan rakyat di masing-masing wilayah. Wilayahnya, untuk sementara, sebagai permulaan proses belajar dimulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bengkulu yang memiliki persamaan isu yaitu melakukan pelawanan radikal terhadap perhutanan dan perkebunan. Peserta belajar tersebut terdiri dari :
Nama-nama orang di atas telah diidentifikasi secara cermat oleh pengelola lingkar belajar, dengan pertimbangan utama bahwa orang-orang ini mampu untuk ikut dalam keseluruhan proses belajar dan dapat mentransfer apa yang diperolehnya ke lingkar gerakannya masing-masing.
Berbicara fasilitator atau pengelola, lingkar belajar ini dikelola oleh orang-orang --anggota KARSA—yang juga telah menyatakan komitmennya untuk mengelola proses belajar ini. Nama-nama pengelola juga ditentukan berdasarkan pengalaman orang tersebut dalam gerakan di wilayah terkait. Pengelola lingkar belajar ini terdiri dari :
1. Tri Chandra Aprianto - SD Inpres, Jember - Jatim
2. Irwan Nirwana - KPA, Bandung -Jabar
3. Ibang Lukmanuddin - YAPEMAS, Garut - Jabar
4. Idham Arsyad - LAPAR, Makassar – Sulsel
5. Prasetyohadi - Asian Fellow